Dermaga diturupi kabut tebal

Kau menyebutku dermaga,
namun kau pilih karam di lautan lama.
Mengunci pintu dari dalam,
padahal aku adalah kunci yang kau cari
di tengah malam yang kelam.
Kau takut pada api,
saat aku hanyalah hangat yang ingin mendekapmu pagi ini.
​Ada nyaman yang kau akui,
namun ada hantu yang masih kau beri makan tiap hari.
Aku berdiri di ambang pintu,
menunggu kau selesai bertamu pada pilu.
Namun kau memilih menutup tirai,
membiarkan yang hampir mekar, kembali terurai.

Komentar

Postingan Populer